Sabtu, 10 Mei 2014

Tak terlintas..

Setiap cerita itu seperti koin, kalo cuma tahu 1 sisi, jangan buru-buru menarik kesimpulan. Ini analogi kayak yang gue alamin pada hal jatuh cinta dengan orang-orang yang tipenya mungkin tak pernah terlintas di kepala kita.

Setiap orang tentu punya kisahnya masing-masing. Dan mungkin saja lebih pahit dari yang mungkin terlihat. Kepahitan hidup itu diketawain aja, niscaya dia kesel dan pergi tak kembali :)

Love happens, it just happens and you dont have to find out why. When it happens, it happens.

Jumat, 09 Mei 2014

Posthink and Nethink...

Manusia itu pemohon yang ambisius, sementara Tuhan adalah pendengar yang antusias. Sudah bicara dengan-Nya hari ini? Tapi bukan manusia yang cuma sering meminta. Tuhan juga punya banyak permintaan. Sudah berpikir baik tentang-Nya?

Kalau manusia nggak percayaan sama kita aja kita males bantuinnya, gimana Tuhan, cobak? Berpikir positif itu salah satu cara aku percaya pada kebaikan Tuhan - bahwa Dia nggak pernah memberi aku hal yang buruk. :)

Ketika aku berpikir buruk, mungkin Tuhan akan ragu memberi yang baik. Kecuali, pikiran buruk itu peringatan. Bunyinya pasti berbeda. Nurani itu ngerti kok, mana pikiran buruk yang tujuannya memperingatkan, mana pikiran buruk yang mengada-ada :))

Ketika aku ingin bahagia, aku berpikir bahwa aku sudah diberi bahagia. Menurutku, itulah percaya. Dan mengenai kamu : aku selalu berpikir baik tentangmu :)

Every positive thought is the answer of your prayer, our refuge, & our sanctuary.

Minggu, 09 Maret 2014

Aku ini apa?

Dalam segala kata aku mencari.
Dalam segala lagu aku menyanyi.
Dalam segala jarak aku menjejak.
Aku ini apa?
Semua orang memberi definisi. 
Seperti profesor dalam buku-buku tebal.
Seperti para nabi dalam kitab-kitab suci.
Tapi 
aku 
ini 
apa?
Bibirku menari, menarik perhatian para nabi.
Aku menggumam mengguru memburu sampai nadi berubah mati.
Aku ini apa?
Biru, meresap sesap seduh larut dalam kolom jantungku.
Kadang sakit itu senang. Pahit itu riang. 
Mawar tak boleh mengubah warnanya sendiri.
Melati tak boleh mengubah baunya sendiri. 
Tapi mereka itu bunga.
Tapi aku ini apa?
Kipas angin berdiri.
Ya di situ saja sampai ada kaki
menendang menyenggol membuang.
Balingnya berputar. 
Ya begitu saja sampai listrik
memati menghabis membuyar.
Itu kipas angin.
Tapi aku ini apa?

Selasa, 04 Februari 2014

Uh...

Bersatu kita teguh
Berdua kita utuh
Bertiga kita gaduh

Berempat kita haduh
Berlima kita runtuh
Berenam udahan deh huh

Bertujuh kita... woi udeh penuh! Emang mikrolet.

Senin, 27 Januari 2014

Peanut Twin Rabbit

Kacang dua kelinci bikin gue sensi. Kelinci aja bisa berdua-duaan. Gue enggak. Kacang dua kelinci. Nggak dua sejoli sekalian?! Sewot.

Gue haramkan kacang dua kelinci meskipun enak. Pake inisial DeKa segala. Nggak suka gue!
Bikin aja sekalian Dua Kambing, Dua Sapi, Dua Mamalia. Sok imut pake kelinci. Nggak buaya aja? Kacang Dua Buaya atau Dua Serigala.

Bikin produk kacang ah. Namanya apa ya?
Kelinci aja.
Lah. Gue jualan kacang kok namanya kelinci.
Lah. Tetangga jualan susu, namanya beruang.

Dua Kelinci aja nih?
Iya. Kenapa? Kurang?
Tambahin lagi, satu kata.
Oke. Mesra.
Kacang Dua Kelinci Mesra?
Iya.
Oke. Lebih ngeselin sih.

Inception Parodi

Gue mimpi seru. Ceritanya gue bisa masuk ke mimpi temen gue dan membaca masa depannya. Temen gue ini nggak pernah mengingat mimpinya. Yang dia tau, setiap bangun tidur dia merasa sedih. Dia khawatir akan apa yang bakal terjadi.

Makanya dia minta bantuan gue untuk masuk ke mimpinya, menceritakan kembali apa yang gue lihat, dan membantu dia mengantisipasi masa depan. Gue masuk ke mimpinya lewat sebuah pintu kayu sebesar pintu aula gereja. Gue lihat ada yang berusaha menyakiti anaknya yang masih bayi.

Samar-samar banget keingetnya. Gue masuk ke mimpi tuh kayak masuk ruang teater. Gelap dan ada panggung.

Waktu keluar dari mimpi temen gue, gue ketemu dia lagi duduk dan nangis di sebuah meja kayu. Gue nyamperin dan ngasih tahu semuanya. Tidur kok seru banget yah. Lanjut aja apa?

Minggu, 15 Desember 2013

Aku bukan aku yang aku

Tahukah kamu? Aku bukan aku yang aku. 
Ini pernah kukatakan sekitar setahun lalu. Ingatkah? Oh, kamu belum mengenalku saat itu. Kalau kukata aku makan apel, belum tentu aku sedang makan apel. Kalau kukata aku sedang minum apel, mungkin saja aku sedang minum apel. Kamu gak perlu mengecek kebenaran kata-kataku, atau menilainya dengan logika dengan peraturan. Di sini, di duniaku, aku menggabungkan semuanya. Imajinasi, memori, mimpi, nyata maupun fiksi. Kamu tak perlu cari tahu mana fakta mana imaji. Kamu tak perlu seserius itu. Aku bukan pendeta, bukan pujangga, bukan presiden, bukan pondok pesantren. Mungkin aku memiliki tuhan, mungkin juga tidak.
Aku bukan aku yang aku. Apa kamu mengerti?
Aku menikmati hidup seperti aku menikmati duniaku. Hidup bukan pelarian dari ketakutan dalam imaji. Imaji bukan pelarian dari takut akan hidup. Aku, duniaku, dan hidup adalah satu. Kamu gak perlu cari tahu mana yang mana, dan mana yang bukan mana. Sempat kupikir, mungkin sebaiknya aku mengganti namaku menjadi sesuatu yang sama sekali bukan aku. Tapi aku tak terpisah dari mana-mana. 
Jiwaku, duniaku, dan hidup, mereka semua satu.
Aku tak perlu mengatur kata-kata, atau mengukurnya untuk sampai ke kedalaman hatimu. Aku tak perlu menerbangkan kata-kata yang lepas dari logika hanya untuk menyapih keinginanmu untuk terbahak atau ter-galau. Aku mesin yang kuciptakan sendiri. Aku bukan mesin yang kamu ciptakan. Aku bukan mesin. Aku mesin. 
Duniaku penuh air. Air itu aku.
Kalau kamu masuk ke dalamnya, kakimu akan basah. Kakimu, jempol kakimu, tumitmu akan basah oleh aku. Kamu tak perlu mengklasifikasikan apapun, apakah pohon perlu dipadankan dengan pohon, apakah ikan perlu dikawinkan dengan ikan. Tak perlu. Kamu hanya perlu bebas, mungkin lupa kalau logika pernah ada. Tertawa dan menangis di saat bersamaan. Gila dan waras di saat bersamaan. Cantik dan jelek di cermin yang sama. Semua itu wajar. 
Batasan yang ada hanyalah batasan yang kamu buat. Aku, air, gunung-gunung, dan kodok di duniaku gak akan membatasi kamu. Sejauh mana kamu mengartikan duniaku, sejauh kamu mengartikan duniamu. Kala kamu masuk, kamu masuk ke duniaku yang adalah duniamu sendiri. Kamu mengerti? Gak apa. Nanti kamu akan tahu sendiri. Saat sayapmu mulai kuat untuk terbang menembus logika dan batasanmu sendiri. 
Saat masuk ke duniaku, kamu akan bingung di mana pintu keluar? Padahal duniaku tak memiliki pintu sama sekali. Padahal pintu yang kamu kira pintu itu adalah pintu yang kamu bawa kemana-mana dalam kantongmu sendiri. 
Di situ keajaibannya. Doraemon gak miliki dunia seluas ini. Dan kamu baru memasukinya.