Rabu, 19 Desember 2012

Aku mau bebas

Seperti angin.
Seperti hujan.
Seperti dandelion.
Seperti batu.
Seperti ketiadaan.
Tapi hidup memasung kakiku.
Aku tak suka.
Ingin menyesap dengan asap.
Seperti asap rokok.
Masuk ke paru-paru.
Membunuh.
Ingin melesak dengan isak.
Mendesak ingus masuk ke otak.
Masuk ke arteri dekat jantung bersekat.
Menunggu sekarat.
Mati besok.
Besok mati.

Minggu, 09 Desember 2012

Langit Hujan

Aku mendongakkan kepala. 
Mencoba membuka mata, 
butiran langit menyusup 
masuk ke bola mataku. 
Kulihat dari sinar lampu, 
butiran-butiran kecil kiriman langit 
berlomba-lomba turun mendahului udara. 
Kubuka kedua telapak tanganku, lebar-lebar. 
Menyambut tari-tarian hujan, 
terasa geli di permukaan kulit. 

Kubiarkan jendela kamarku terbuka, 
nyanyian langit terdengar semakin jelas. 
Dentingan air, berkolaborasi dengan atap. 
Membentur-bentur tanah, 
menjawab sapaan guntur. 
Rambutku masih menyisakan sedikit kiriman langit. 
Butiran-butiran kecil berjatuhan, menyapaku centil. 
Tubuhku masih menyisakan energi,
untuk ini, sapaan selamat malam 
untukmu, langit hujan.
Terimakasih untuk nyanyianmu.
Selamat tidur.