Senin, 29 Juli 2013

Hit of Same

Masih banyak yang lupa cantumin 'oknum' di depan profesi orang.
Akibatnya 'profesi tertentu' dipukul rata bejat semuanya. Semisal; "Polisi bangsat, tukang bohong, penindas, dll"

Hey, apa kabar yang kerjanya benar, tanggung jawab dan jujur?

Atau, "Orang-orang di DPR kerjaannya cuma korupsi, nonton bokep, dan tidur pas rapat."
kan, gak semua :))
Kenapa 'oknum'nya harus diabaikan?

Keluarga besar rata-rata aparat, buat dapatin kerjaan itu pun gak gampang. Pengorbanan darah dan keringat.
Disaat mereka udah dedikasiin diri buat negara, kerja yang bener, eh gara-gara kesalahan beberapa oknum, kena sematan lencana "BANGSAT" juga :))
Abang istrinya lahiran, demi panggilan tugas pengamanan, rela ninggalin. Dan some people di luar sana dengan ringannya mencaci rata :))

HAH!!!
Pengen banget iris-iris bibir yang sok kritis tapi salah penggunaan bahasa gitu.
Jika ada selembar foto, ada 10 orang foto bareng; maka saat 10 orang tsb melihat hasilnya, masing-masing akan melihat pose-nya sendiri. Dan berkomentar bagus atau tidaknya foto itu berdasarkan pose-nya. Jika dia merasa bagus, maka baguslah seluruh foto itu. Dan Jika tidak, maka tidak baguslah seluruh isi foto tersebut. — Darwis Tere Liye

Yah gitu, kebanyakan dari kita pasti akan menyimpulkan segala sesuatu dari situasi masing-masing.
Selalu ada sisi lain dari sebuah cerita. "There are 3 versions of a story. Your version, my version, and the truth."

Rela(tionship) Breaking Down

Nggak ada orang yang nggak kepengin hubungannya awet. Iyakah? Nggak juga. Ada loh yang kepengin putus tapi nggak tau caranya. Ada.
Bisa jadi karena udah ngerasa nggak nyaman, udah bosen, tapi nggak tega untuk bilangnya ke pacar. Mungkin juga kamu udah ngasih tanda-tanda mau putus, tapi dia nggak bisa ngebaca juga. Repot.

Salah satu caranya mungkin dengan ngebatalin kencan mendadak di menit terakhir. Dan lakukan beberapa kali. Atau di tengah kencan, bilang kamu mendadak ada urusan dan harus pergi. Dia pasti bete.
Jangan pernah bales sms/chat-nya, jangan angkat telponnya. Lakukan terus dalam beberapa hari. Kemungkinannya, dia bakal frustrasi dan nggak akan nyari-nyari kamu lagi. Kelar perkara.

Selain itu, bisa juga dengan cara nggak mau dengerin curhatannya. Nggak usah ngomong yang manis-manis juga. Tiap kali dia mau curhat, alihkan pembicaraan. Kesel tuh orang kalo digituin kan?
Kalo dia mulai ngajak berantem, nggak usah nyaut. Diemin aja. Anggap seakan-akan kamu nggak peduli.

Atau, bisa juga balik caranya dengan cara nelpon dia terus-terusan, posting di wall Facebook-nya tiap 5 menit sampe dia gerah sendiri. Tanya berpuluh-puluh kali dalam sehari, "Kamu sayang nggak sih sama aku?" Pasti dia kesel.
Kalo dia mau pergi sama temen-temennya, dramain aja: Pilih mereka atau aku? :D
Pokoknya usaha semaksimal mungkin supaya dia gerah sama kamu dan nggak tahan untuk mutusin kamu. Hehe.

Bisa juga cerita tentang cewek cakep yang tadi kamu temui di jalan, dan betapa kamu suka banget sama orang itu. Dia masih belum mutusin kamu juga? Cerita tentang kebaikan-kebaikan mantan kamu dulu! Dan banding-bandingin...
Dijamin kamu pasti segera akan diputusin sih kalo kayak gitu. Sebaliknya, kalo kamu nggak mau diputusin ya jangan buat hal-hal kayak gitu :D

Batas kesabaran dan toleransi orang itu memang beda-beda, tapi tetep ada batasnya. Itu aja patokannya.
Nggak bisa mutusin pacar bukan selalu karena masih cinta. Bisa jadi karena nggak tega atau nggak enak hati. Tapi memang lebih baik terus terang sih kalo mau putus. Lebih berani, lebih nggak pengecut :)

Jangan mutusin lewat Sms/chat. Lewat telfon aja jangan. Temui langsung. Hargai dong perasaannya. Kecuali LDR ya...
Orang yang pernah mutusin nggak pake ketemu langsung, cenderung bakal mengulanginya lagi. Kamu juga nggak mau kan digituin? Kecuali nih, kecuali, kalo orang itu berbahaya, bakal berlaku kasar kalo kamu putusin, ya jangan ditemuilah...
Jangan pernah bilang, "Kamu terlalu baik buat aku." Itu bullshit. Jujur ajalah, bahwa kamu memang udah nggak cinta lagi...
Jangan menyalahkan siapa-siapa. Kamu mau putus kan, bukan mau ngajak berantem?
Nggak usah sok manis juga. Yang penting jujur dan tegas. Dia bakal lebih menghargai kok dengan cara itu.
Jangan mutusin saat dia ulang tahun, saat lebaran atau natal. Tapi jangan ditunda terlalu lama juga.
Orang yang tau apa maunya, nggak akan nunda-nunda atau ragu. Kalo ragu ya artinya kamu nggak yakin kamu mau putus.
Jangan PHP juga dengan bilang: Aku perlu waktu untuk sendiri dulu, jadi ini cuma break. Itu jahat.
Nggak usah juga langsung pengumuman ke seluruh dunia bahwa kalian udah putus. Ada yang namanya masa transisi.

Udah bilang "putus" bukan berarti kita langsung bebas merdeka mau ngapain aja. Hargai hubungan itu. Hargai perasaannya. Kamu boleh aja yakin bahwa kamu memang harus putus, tapi tetap harus mikirin perasaan dia. Kalian pernah saling sayang kan?
Putus itu bisa baik-baik, meskipun kalo sampe putus itu artinya keadaannya (jadi) nggak baik.

Kalo kamu jadi pihak yang diputusin juga nggak usah drama. Nggak usah jelek-jelekin mantan juga. Cinta nggak bisa dipaksa, bro.

Senin, 22 Juli 2013

Tidur Punya Teman

Kamu mau jadi teman tidurku? Badanmu besar. Dadamu serupa bantal. Lenganmu bisa jadi selimut di sekeliling tubuhku.
Selama ini, teman tidurku ya kasur, bantal-guling, dan selimut. Aku bosan. Mereka nggak bernapas. Mereka nggak memiliki detak jantung.
Mereka nggak bergerak. Nggak marah saat tertendang. Nggak memiliki napas bau saat pagi. Nggak kentut saat malam. Nggak hidup. Di usia dua puluh, untuk pertama kalinya, aku menginginkan teman tidur yang hidup. Atau teman hidup yang tidur. Atau teman hidup.

Jumat, 19 Juli 2013

Air Mata

Air mataku sengaja kuteteskan di atas buku kosong. Supaya meresap rasa ini dan bercerita mereka di sana. Saat lupa, mereka mengingatkan. Malam hari, air mata yang sudah kering menjelma menjadi kata-kata. Terpatah-patah dan tak rapi, karena begitu memang kalau menangis.
Daripada kubiarkan kering di tempat-tempat tak penting, aku membeli sebuah buku khusus untuk mencatat butiran air mataku. Butiran air mata itu sebenarnya kata-kata yang tak terucap. Makanya mereka butuh buku kosong. Mata juga bisa menulis kan.
Karena mata adalah juga pena. Air mata adalah tinta. Mereka memproduksi kata-kata yang tak terbaca oleh mata. Sekarang buku air mataku ini sudah belasan bab. Judulnya beragam. Tapi, tentunya kamu nggak bisa baca.
Mataku sembab. Seperti tulang jari yang lelah menulis. Itu di toples ada jutaan detik-detik yang terbuang saat kamu memandangi aku.

Kamis, 18 Juli 2013

Once Upon Time

Beberapa hari lalu dapet cerita tentang Imam Al Ghazali, filsuf dan ilmuwan muslim yg banyak banget kontribusinya dalam perkembangan Islam.
Anyway, jadi ceritanya, waktu  Al Ghazali meninggal, dan sedang dimandikan (jenazah) oleh salah seorang sahabatnya, tiba-tiba sahabatnya melihat wajah Al Ghazali mendadak tersenyum hampir seperti sedang tertawa.
Sahabatnya bilang "Demi Allah, aku harus tau apa yg membuatmu tersenyum.." pada jenazah tersebut. Keesokan harinya, si sahabat ini mimpi bertemu Al Ghazali. "Aku mendengar kamu berucap Demi Allah sehingga Ia memerintahkanku untuk memberitahumu. Ketahuilah saat engkau memandikanku, sesungguhnya amalan-amalanku sedang dihitung. Dan tahukah kamu apa amal ku yang pertama diterima oleh Allah? Yaitu, satu hari aku hendak menulis kitab, lalu di botol pena ada seekor lalat yg hinggap dan meminum tintanya.. Lalu aku membiarkan hingga dia kenyang dan terbang baru aku mencelupkan penaku dalam botol.. Keikhlasanku menunggu lalat minum itu adalah amal pertama yg diterima oleh Allah. Dan itu sungguh membuatku tertawa!"

Di antara amalan2 lainnya, justru yang diterima pertama kali adalah hal yang (keliatannya) sepele… Subhanallaahh ~~

Rabu, 17 Juli 2013

Man of Power

Menurut kamu, manusia itu adalah makhluk yang kemampuannya nggak terbatas atau malah maha terbatas?
Manusia nggak bisa terlalu dekat dengan matahari karena bisa mati terbakar. Jadi, manusia punya keterbatasan.
Mengambil resiko itu nggak salah. Yang salah adalah mengabaikan keterbatasan kita ketika mengambil resiko.

Tau diri dan bisa mengukur keterbatasan diri sendiri itu bukan berarti pesimis lho. Itu artinya realistis. Mengakui keterbatasan diri sendiri itu artinya jujur dengan diri sendiri dan punya pemikiran panjang.
Kadang malah dengan keterbatasan yg kita punya kita bisa lebih berhasil daripada ngarepin sesuatu yg mustahil.

Kemampuan terbatas yg kita punya sekarang akan lebih baik lagi kalo kita realistis & terus berlatih :)
"Find your own limitations, but don't limit yourself with false modesty." - Anne McCaffrey

Mungkin satu hal yg nggak bisa dibatasi adalah kemungkinan-kemungkinan untuk hidup bahagia ya?
"If people don't recognize such limits, God will make them realize His own way." - Pramoedya Ananta Toer

Semua orang berhak untuk bahagia dengan cara masing-masing. "Every limit is a beginning as well as an ending." - George Eliot

Jangan ragu untuk menjadi egois demi bahagia :))

Selasa, 16 Juli 2013

Background Distance

Mungkin orang yang LDR-an lebih banyak berkomunikasi sama pasangannya ketimbang yang nggak ya? Cuma masalahnya, ngobrol di telepon terus itu akhirnya bikin jenuh. Lama² bingung juga apa yang mau diomongin :D

Aku aja ngejalanin udah 2-3 tahun LDR-an. Lama-lama komunikasi, jadwal chatting yg tadinya exciting jadi tambahan beban hidup :D
Belum lagi kalo pasangan LDR-nya posesif dan cemburuan. Aih, dem! Plis deh. Udah jauh, bikin rempong pulak.

Semua yang LDR-an harus mikirin gimana caranya supaya nggak LDR-an lagi. Salah 1 harus pindah, atau cari pacar baru :D Keuntungan LDR-an cuma 1 sih: Pas ketemu kangennya lebih terpuaskan dibanding sama yang bisa sering ketemu :')

Tapi ingat, aku nyaman ngejalaninnya. Dengan atau tanpa kamu , aku, dan mimpi kita dulu.
Walaupun harusnya pas ketemu, ga ada waktu untuk konflik gak penting. Both will want nothing but best quality time.

Seharusnya ada majalah yang judulnya "Move On" atau "LDR". Pasti laku keras. Dan aku bakal jadi pelanggan sejatinya.