Senin, 15 September 2014

Me(rdeka)-ninggal

Musim orang meninggal di tahun 2014 itu Februari dan Agustus, yang katanya bulan cinta dan bulan kemerdekaan. Mungkin memang kematian adalah kemerdekaan dan cinta. Kesimpulannya jadi begitu.

Merdeka itu hak, tapi sebenarnya kebanyakan kita lebih merasa nyaman dalam keadaan terpasung.

Saling pengertianlah!

Melindungi cewek itu emang udah jadi panggilan alam buat cowok. Jadi kalau cowokmu mbantuin cewe lain, ya kalem aja. He's just trying to be nice. (BOOMM!!)

Kalau menurutmu kadang susah ngebedain cowok yang modus dan emang beneran tulus. Maksudnya, he simply showing a good manner. Karena memang anaknya baik (palm face). Jadi gini kan we, kalo kamu pacaran.. Coba deh kalian kenali bener tuh cowok kamu. Biar nanti kamu bisa jauh-jauh dari kata cemburu. Biar sehat juga kamu dinilai cowok kamu.

Bukannya karna gue belain cowok ya disini. Tapi emang sialnya cewek kan emang gitu ya. Suka menciptakan kesusahannya sendiri. Kalau cemburu, prasangka udah kemana-mana, akhirnya nangis..
Makanya sebelum menjatuhkan hati, mbok ya cowoknya dipahami dan diikhlaskan segala tingkah lakunya. Biar hati sehat, hubungan juga sehat! (Ketawa)

Kalo kata gue sih... Membangun suatu hubungan itu butuh dua orang yang solid. Yang sama-sama kuat. Bukan yang saling mengisi kelemahan. Kalo orang kaltim bilang: Love is strong energy. (Ngekek)

Jumat, 12 September 2014

Penyesalan dalam kenyamanan

Beberapa kisah yang indah mungkin memang ditakdirkan untuk tak punya akhir. Karena kalau diteruskan tak lagi pantas dikenang. Aku tak berharap banyak dari 1 pertemuan saja, karena sebuah cerita baru bisa tinggal dalam kepalaku ketika ditulis lebih dari 1 paragraf.

Berapa ratus jam sudah kita tak bertemu? Aku menyesal...

Seharusnya ketika itu aku dipertemukan kembali, kan kubawa pulang dan kumasukkan ke dalam lemari pembeku.
Sudah seharusnya rindu adalah rasa yang terlalu punya nyali. Menakutkan, kadang. Ia tak kenal ampun, tak kenal waktu, tak kenal alasan.

Peringatan untuk selanjutnya: Bijaklah dalam memilih. Nyaman saja tak cukup. Kepastian dan rasa aman itu lebih penting.

Jumat, 05 September 2014

Penyakit avatar.

Malam-malam tadi naik motor dan tidak pakai jaket = duduk didepan kulkas yang pintunya dibuka.
Terus gue pagi ini langsung konsultasi sama mantri kebun perihal penyakit yang gue alami dan dengan berat hati si mantri pun memvonis, bahwa gue menderita masuk angin.

Kemudian gue tersedak dengan pernyataan tersebut. Masuk angin? Apakah ini tanda bahwa gue seorang avatar? Jika bukan avatar,  bisa jadi juga kalo gue ini 'display picture'.

Sang mantri bilang juga bahwa obat untuk penyakit gue itu murah, tapi langka. Ya, koin gopean tahun 91.Buat apa? Kerokan.
Masih bingung gue dengan koin gopean tahun 91. Gue pun nanya. Kenapa harus koin gopean tahun 91? Selain buat kerokan gak terlalu sakit, koinan taun 91 juga bisa dibuat jadi cincin katanya.

...akhirnya gue dan sang mantri pun adu gelut.

-tamat-

Jumat, 29 Agustus 2014

Mengapa BBM Naik?

Mengapa menolak kenaikan BBM, karena naiknya BBM berimbas pada kenaikan harga kebutuhan pokok yang lain, sementara pendapatan tetap. Ada banyak penghematan yang bisa dilakukan lewat perampingan APBN, juga menaikan pajak lebih tinggi pada pemilik kendaraan bermotor pribadi.
Aburizal Bakrie pada 2005 berkata bahwa BBM dibakar dijalan. Dia dan presiden menaikkan harga BBM sebesar 70-100% kala itu.

Kenaikan BBM pada 2005 diharapkan bisa mengurangi kendaraan bermotor, tapi faktanya jumlah mobil pribadi naik dua kali lipat di era SBY. Salah satu aktor yang mendukung kebijakan kenaikan BBM itu JK loh. "Anggaran negara tekor akibat terlalu banyak dipakai untuk subsidi BBM".

Di sisi lain Jokowi pernah bilang 70% subsidi BBM dinikmati orang kaya. Intinya Jokowi juga mendukung, tapi jangan dia yang naikin.

Tapi percuma tahu dan paham beginian kalau kamu gak sayang aku.... (nangis)

Asumsi Kenaikkan

Gue menolak kenaikan BBM. Dengan asumsi bahwa masih ada kebijakan lain yang bisa diambil. Seperti menaikan pajak kendaraan secara masif. Ada 128 juta orang miskin di Indonesia (51% total penduduk), standar yang digunakan Bank Dunia ($2/hari) BBM naik akan menambah angka ini.
Dengan catatan bahwa, kenaikan BBM ini cuma gincu, toh pada praktiknya di Indonesia timur harga bahan bakar tidak karuan. Ketimpangan sosial.

Aktivis penolak Kenaikan BBM yang mengatasnamakan kesejahteraan rakyat bagi gue sih munafik dan politis. Kenapa bereaksi hanya kalau di jawa? Kalau membaca laporan Bank Dunia perihal Koefisien Gini (disparitas kemiskinan/kaya) indonesia mencapai angka tertinggi pada rezim SBY 0,41.
Orang kaya di Indonesia (penghasilan lebih 10/juta perbulan dengan standar bank dunia) adalah minoritas. jumlahnya tak lebih dari 15 juta jiwa.

Kalau kenaikan BBM digunakan untuk menghukum yang kaya karna pakai bensin bersubsidi ya absurd. Menghukum 15 juta dengan menghajar 121 juta.
Beberapa pakar ekonomi berkata bahwa menaikan pajak kendaraan bermotor percuma, karena pajak masuk ke daerah, gue kira yah masih ada jalan lain.

Kalau gue jadi audience debat ama demit toh bakal pake argumen itu. Boleh loh les argumen berbasis data dengan gue. Murah modal laporan tahunan lembaga kredibel dengan google gitu. (Ketawa)

Selasa, 26 Agustus 2014

Sayangi mereka..

Orangtua, sebagaimanapun berseberangannya denganmu, jangan pernah dimusuhi, apalagi diceritakan kejelekannya. Bagaimanapun, mereka orgtuamu.
Lebih baik bicara dengan merendahkan suara, atau diam. Orangtua bukan batu yang bisa seenaknya dimainkan hatinya.

Seburuk-buruknya perseteruan adalah dengan keluarga sendiri, apalagi orangtua. Jangan gaes, pokoknya jangan sampe!