Selasa, 02 Juli 2013

Kata

Di mulutku ada sebuah kota, ramai dihuni kata.
Ratusan kata membangun jembatan di atas gusi.
Rumah-rumah dibangun di atas lidah.
Saluran-saluran air dan tiang-tiang listrik
tinggi-tinggi sampai langit-langit mulut.

Kota berpenduduk Kata bekerja siang-malam,
membuka gerbang mulut dan berlompatan dari pinggir bibir.

Ketika gerbang mulut tertutup, rumah-rumah di atas lidah menggelap,
Kata melakukan pekerjaannya. Meresap, menyesap, mendekap dinding hati.

Kata tak memiliki perjalanannya sendiri. Kata memiliki Tuhan.
Mendekap di pojok-pojok gigi, meresap dalam gusi dalam gigi dalam hati.

Huruf-huruf, satu-satu, memanjati bibirmu.
Menjalin, mengikat, menjadi kata, merintis makna.

Setiap Kata memiliki Tuhan.

Setiap Tuhan memiliki Kata.

Maka Tuhan berKata. Maka Kata berTuhan.

Kata memiliki banyak pekerjaan.
Menguliti harga diri, mengucap cinta, melucut rindu, menelanjang sepi.

Kata berujar, berucap, berKata. Kata memiliki Jati dan Diri dan Jiwa yang tak mati.

Kata itu Tuhan. Dan Tuhan adalah Kata.

Minggu, 30 Juni 2013

Balada Cinta Alam

Bukit pasir itu masih muda, baru saja terbentuk oleh angin yang bertiup melewatinya. Saat itu juga, awan jatuh cinta kepada si bukit pasir.

“Selamat pagi,” sapa sang awan.
“Seperti apa kehidupan di bawah sana?”

Bukit pasir: “Buatku hidup ini singkat saja, Begitu angin datang lagi dari arah hutan, aku akan lenyap..”
Awan: “Apakah kau menjadi sedih?”
Bukit pasir: “Tidak, aku hanya merasa hidupku tak punya tujuan.”
Awan: “Aku juga merasa begitu. Saat angin berhembus kembali, aku akan pergi & diubah menjadi hujan; tetapi itu sudah suratan takdir.”

Setelah bimbang sesaat bukit pasir itu berujar, “Tahukah kau bahwa di padang gurun ini kami menyebut hujan sebagai surga?”
“Tak kusangka diriku bisa sepenting itu buat kalian..” kata si awan dengan bangga.

Bukit pasir: “Aku pernah mendengar bukit-bukit pasir yang lebih tua menceritakan berbagai kisah tentang hujan.”
Awan: “Ceritakanlah!”
Bukit pasir: “Katanya, setelah turun hujan, kami smua tertutup bunga-bunga. Tapi aku tidak akan mengalaminya, sebab di padang gurun jarang turun hujan.”

Sekarang giliran si awan yang menjadi bimbang. Kemudian dia tersenyum lebar dan berkata dengan semangatnya kepada bukit pasir.....

Awan: “Kalau kau mau, aku bisa menurunkan hujan ke atasmu sekarang juga!!”
Bukit pasir: “Kenapa kau mau melakukannya? Kau baru saja mengenalku.”
Awan: “Memang, aku baru saja sampai di sini dan kemudian mengenalmu, tapi aku jatuh cinta padamu, dan aku ingin tetap di sini selamanya.”

“Waktu aku pertama melihatmu di atas langit sana, aku juga jatuh cinta padamu,” sahut si bukit pasir.

Bukit pasir: “Tetapi jika kau ubah rambut putihmu yang indah itu menjadi hujan, kau akan mati dan aku tidak bisa melihatmu lagi.”

“Cinta tak pernah mati,” sahut si awan.
“Cinta membawa perubahan; selain itu, aku ingin menunjukkan surga padamu.”

Dia pun mulai membelai bukit pasir itu dengan tetes air hujan, supaya mereka bisa lebih lama bersama-sama, sampai muncul sebentuk bianglala.
Keesokan harinya, bukit pasir yang kecil itu dipenuhi rerumputan dan bebungaan nan indah.

.... awan-awan lain yang melintas menuju Afrika senang melihatnya, maka mereka pun menebarkan lebih banyak hujan di situ.
Dua puluh tahun kemudian, bukit pasir itu telah berubah menjadi Oase yang memberikan kesegaran kepada para musafir.

.... Dan semua itu terjadi karena sepotong awan jatuh cinta, dan tidak takut menyerahkan hidupnya demi cintanya. :)

“Kau lihat? Cinta tidak
diciptakan oleh mereka yang bernyali kecil. Atau mereka yang hanya mau dan siap menghadapi kebahagiaan saja.”

Jumat, 21 Juni 2013

Haus

Ada lelehan otak yang mengalir
sampai ke tenggorokan.

Aku lupa apa itu haus.

Aku ingat haus.
Kerontang seperti kalengkosongkaratan.

Aku ingat air. Ssuuup!
Menyusup menyatu dengan dinding kerongkongan.
Sebentar saja sampai kerongkongan ini kembali kerontang.

Air itu hidup.
Aku ingat haus.
Tapi air itu hidup.

Berjalan sendiri melewati gusiku,
bercinta dengan lidahku,
menyetubuhi kerongkonganku.

Apa itu haus? Aku lupa.

Selasa, 07 Mei 2013

Gelombang Radio

Gelombang di lautan radio.
Deburnya berisik membasahi gendang telinga.

Padahal dengan mudah air sepercik dikeringkan,
tapi air yang tertampung di laut, nggak ada orang bisa mengelus dasarnya.

Kamu, entah air sepercik di tangan;
atau air bergerombol dengan gelombang di laut;
tetap saja air.

Senin, 01 April 2013

Kepalaku: Kantor paling sibuk di dunia

Engkau tahu? Kepalaku: Kantor paling sibuk di dunia.
Anehnya, hanya seorang bekerja tiada lelah di sana.
Tak mengenal hari minggu atau hari libur nasional.
Tak pula mengenal siang dan malam. tak mengenal
apa-apa kecuali bekerja, bekerja, bekerja dan bekerja.
Kadang-kadang ingin sekali suatu pagi melihatnya datang
menyodorkan sehelai map berisi surat permohonan cuti.
Ingin pergi ke satu tempat yang jauh, mengasingkan diri
beberapa hari di pertengahan nopember yang lembab sembari
merayakan hari ulang tahun sendiri. lalu di depan pintu
kantor terpasang sebuah tanda berwarna merah: Tutup.
Tetapi ia betul-betul seorang pekerja keras.
Setiap saat ia berada di kantor. mungkin hendak
menyelesaikan seluruh persoalan waktu yang tidak
pernah mampu selesai itu: Tentang masa lampau
yang tersisa di masa sekarang, tentang keinginan
berhenti atau tak berhenti, juga perihal lain yang sepele
namun sungguh rumit buat dijelaskan.
Ya, percayalah! kepalaku: Kantor paling sibuk di dunia.
anehnya, hanya seorang bekerja tiada lelah di sana: Engkau saja!

Sabtu, 09 Maret 2013

Anak Angin

Aku mengagumimu, anak angin.
Ingin kukecup helai rambutmu.
Kubaui aroma merdumu.
Beri aku satu nyanyian,
dan akan kulahap semua rayu.


Tak apa jika kau tak lama.
Sebentar saja, ingin kuhirup lembut senyummu.
Perdengarkan lagi sedikit iramamu.


Anak angin, aku suka kamu.


Aku tak pernah mencumbu rindu.
Menghela pedih.
Tak pernah.
Tapi padamu, anak angin,
kutitipkan degup hatiku.
Dan seluruh candu.


jatuhkan peluhmu.
Kecup sedikit rinduku.


Telah kutitipkan senyumku pada hujan,
yang bulirnya berlompatan,
di atas panggung dedaunan.


Kau dengar, anak angin?
Dandelion pun bermelodi.
Mereka menyanjung, membuatmu tersanjung.
Menunggumu ikut bersenandung.


Dengar anak angin,
aku tak takut kau pergi.
Waktu yang kucuri darimu,
kusimpan di kotak magisku.
Terkunci oleh nafasmu,
hela terakhir nafasmu.


Saat kau pergi,
titipkan senyummu pada hujan.
Seperti yang selalu kulakukan.


Kala awan mulai gelap,
dan anak hujan berlompatan
di atas panggung hijaunya.
Kala Dandelion menyombongkan melodinya,
kala itu juga, ingat aku.


Ingat aku.
Seperti aku ingat kamu.

Jumat, 01 Maret 2013

Kenangan Tahun 90'an

Masih ingat tahun 90’an, jaman dimana dulu kita masih SD-SMP?
Jaman dimana artis cilik yang gue sukain diisi oleh Bondan Prakoso (Si Lumba-Lumba), Eno Lerian (Nyamuk Nakal), Melisa (Semut Semut Kecil), Chiquita Meidy (Kukuku), Trio Kwek-Kwek, Agnes Monica dll.
Oke disini gue cuman ingin sedikit flashback, mengenang serunya jaman 90’an dibandingkan dengan jaman sekarang. Berikut adalah hal-hal dan perilaku seru yang dulu nge-trend ditahun 90’an, waktu gue masih kecil. :D
  1. Baca komik DORAEMON, DRAGON BALL, KUNGFU BOY dll didalam kelas sampai disita guru.
  2. Rebutan main mesin game (DINGDONG). Kalo yang tajir beli NINTENDO, SEGA atau GAMEBOY (dulu itu adalah barang yang cukup mewah untuk anak-anak).
  3. Ngabisin koin di TELEPON UMUM atau WARTEL.
  4. Pakai jam tangan merk G-SHOCK (yang didalamnya ada gambar Lumba-Lumba dll)
  5. Main MONOPOLI, ULAR TANGGA, dan KARTU KWARTET (yang kalah dicoret pakai bedak).
  6. Main TAMIYA sampai lupa waktu, akhirnya didatangin ortu ke lintasan tamiya.
  7. Main PETAK UMPET sama teman-teman satu kampung.
  8. Main KARET GELANG, CONGKLAK dll.
  9. Tidur selalu tepat waktu jam 21.00 Wib (bukan seperti sekarang, anak-anak ngerasa bangga gitu kalau insomnia. Bahahaha... gak gaul kalau gak insom).
  10. MANDI DISUNGAI bareng teman-teman (cowok cewek bergabung, pede aja kali, hahaha).
  11. Beli COKLAT merk AYAM JAGO, dan WAFER merek SUPERMAN, dan makan PERMEN JAGOAN NEON biar lidahnya berwarna.
  12. Setelah era sablon dan bordiran ALIEN atau SHUVIT berlalu, ganti pakai baju ala POINTBREAK (Stussy, Billabong, Rip Curl, Volcom, dll)
  13. Bangga memakai TAS SLEMPANG ber-merek KUTALINES atau DAGADU.
  14. Nonton POWER RANGER, SAINT SEIYA dan KOTARO MINAMI yang berubah jadi KSATRIA BAJA HITAM.
  15. Pergi ke sekolah pakai SEPATU LAMPU, itu loh sepatu yang kalo kita injek keluar cahaya lampu-lampu dari bawah, hahaha PRO ATT
  16. Ngumpulin TAZOS dari CHIKI dan CHITATO.
  17. Ngumpulin KERTAS FILE LUCU dan main tuker-tukeran ama temen sekelas.
  18. Menggosip tentang PULPEN NARKOBA, pulpen yang wangi sangat.
  19. Pakai sandal CARVIL dan NECKERMAN anti slip (sering diplesetin menjadi NYEKERMAN).
  20. Ngerasa kurang gaul kalau belum ngisi BIODATA di BINDER TEMAN, btw itu binder masih ada gak sekarang? Hahahaha Makanan Favorit (Mafav), Minuman Favorit (Mifav)
  21. Memasang TATTO hadiah dari PERMEN KARET YOSSAN.
Menurut gue sih masa dulu emang indah ya, berbeda dengan jaman sekarang, jaman dimana anak-anak kecil sudah didoktrin oleh gadget dan sekutunya. Kasian sama adik-adik yang sekarang, masa kanak-kanaknya terenggut oleh ALAY dan ALAYWATI, kecil-kecil udah pakai Smartphone kayak BB, Iphone, Android,  sok gaul pakai mobil orang tua, dugem biar dibilang macho, hahaha DEWASA KARBITAN! :D
Pasti bakalan ada yang hilang setelah tahun 2000’an