Selasa, 03 Juli 2012

Menyusur Jalan Menjelang Pagi

aku menikmati lampu-lampu jalan satu persatu padam
bagaikan daun-daun cahaya berguguran begitu saja

aku menyaksikan segenap bayang-bayang berbaring menyatu
dengan jalan sebelum matahari juga pagi datang dan mereka
sekali lagi dihidupkan

dan tiba-tiba saja aku mau kau ada berjalan di sisiku
tanpa bicara.

Sabtu, 23 Juni 2012

Sepasang Pohon Gerbang

saban jelang lebaran sepasang pohon itu mengajak pulang
mereka berdiri menjaga kampungku dari para pendatang
itulah mengapa orang memberi nama pohon gerbang
kalian akan paham jika suatu kali datang bertandang

pohon sepasang itu sudah amat tinggi menjulang
batang kokoh dan daun-daunnya sungguh rindang
melihatnya aku selalu berpikir mereka dua orang
satu berdiri di kanan jalan, satu di sisi seberang

pada bulan-bulan kering, di bawah matahari siang,
orang-orang senang bernaung menanti datang petang
pada malam hari tempat cengkerama para lajang
menemukan mereka bercumbuan tidaklah jarang

di musim-musim penghujan dedaunnya saling silang
aku membayangkan seperti tangan kekasih dua pasang
ulur-berulur menjangkau ingin berdekap berbagi sayang
lari dari dingin cuaca meski dilerai jalan membentang

lebaran tahun lalu aku saksikan daunnya makin kurang
sepasang orang itu seperti nenek kakek tinggal tulang
pikirku tak lama lagi seseorang akan datang menebang
oh, mayat mereka akan terlentang sungguh panjang

setelah uang saku hilang, juga tak ada tabungan, gaji kurang
kalau mau pulang ke sana-sini aku harus mencari utang
maka lebaran kali ini sayang aku tidak mampu pulang
di tidurku dua pohon itu tak henti terbayang-bayang

lewat tetangga aku titip salam kepada pohon gerbang
tetapi, katanya, dua pohon itu dua bulan lalu tumbang
saling bersilang di tengah jalan menyusahkan orang-orang
seperti lebaran di kampung, pohon gerbang tinggal kenang.

2010

Sabtu, 09 Juni 2012

Hujan. Langit. Halo!

Malaikat langit, kalau nyapu 
Aku berasa dikerjain langit deh kalau pulang basah-basahan.

Malaikat langit, kalau nyapu jangan marah-marah dong. Tuh, kotorannya pada turun semua ke bumi. Jangan banting-banting barang juga, berisik!

Hoy, hujan! Sedang deposito ya di bumi? Jangan banyak-banyak, nanti kami rugi.

Langit sedang menghamili bumi.

Langit tidak sedang menangis. Langit sedang olahraga.
Sedang angkat barbel. Jakarta mandi keringat. Keringatnya langit.

Sedang ada pasar malam di langit.
Ibu-ibu surga pada belanja sambil bergosip.
Bersenggol-senggolan, minuman dan keringatnya tumpah ke bumi.

Team cheerleader langit sedang sangat bersemangat.
Keringatnya bercucuran deras sekali, sampai rambutku basah semua.

Tenggorokan langit sedang banyak reak.
Langit, kau butuh obat batuk?

Atap semesta bocor.

Langit, tertawalah! Tapi jangan kentut!

Langit tertawa-tawa sampai keluar air mata.
Apa sih yang begitu lucu? Pasti sedang mentertawakan para koruptor. Atau para perusuh kota.

Langit, matamu sedang gatal ya? Iritasi? Sini, biar kugaruk.

Langit, kau pakai parfum apa?
Semprotan parfummu sampai ke sini.
Wangi sekali. Boleh kupinjam sekali-kali?

Hei, langit sedang berorkestra. Suara bas-nya begitu membahana.
Indah, indah sekali! Siapa konduktornya? Sungguh, ingin kukecup pipinya.

Telingaku sibuk. Meneliti melodi langit.
Ting tung ting tung ting ting tung. Chis chik chis tsik tsuk.
Telingamu sibuk juga tidak?

Hujani aku dengan keringatmu, Langit.
Sibukkan mataku menghitungi bulatan-bulatan hujan.
Kecup pipiku, Hujan. Ingin kucuri aromamu.


Aku pencuri aroma bulan. Kamu?
Aku pengagum melodi langit. Kamu?
Mataku tak pernah sibuk. Kala menggidik pada langit, bintang-bintang menyembunyikan diri. Cih!

Sampai tetes terakhir air matamu,
saat itulah huruf terakhir dari kata-kataku.
Yang sedari tadi tentangmu, Langit.

Bosankah kau? Mendengarku membicarakan langit dan tangisannya?
Salahkan langit, ia masih juga berkaca-kaca.

Kalau langit belum berhenti juga menangis, aku tidak berhenti menulis. Sekarang ia masih terisak.

Jumat, 01 Juni 2012

Selamat Pagi, Semesta!

Kelopak pagi, harum. 
Hijau semesta, tersenyum. 
Biru udara, berdentum. 
Aroma awan, berlari. 
"Pagi," sapa Mentari.
Anak angin mengecup pipi. 
Mataku menyipit. 
Mengintip dari punggung Mentari. 
Menanti.
Sebentar lagi, 
jingga akan mencumbu biru. 
Biru mendekap putih. 
Lalu Mentari, menyungging senyum. 
Membuai kolong semesta.
Kaki-kaki kecil, cakar-cakar mungil. 
Seriosa parkit, nada-nada burung gereja.
Dansa rumput hijau, parfum tanah merah. 
Dendang daun-daun. Gemerincing kecapi air. 
Selamat pagi, semesta. 
Semesta tak terlihat.
Semesta yang di sana.

Selasa, 15 Mei 2012

Lima Hal Memalukan dari Masa Kecil Saya

Banyak teman saya di linikala membicarakan masa kecil mereka. Berikut ini lima hal memalukan dari masa kecil saya.
1.
Ngompol. hingga kelas 5 sekolah dasar, saya masih sering ngompol. modusnya selalu sama: mimpi berenang atau main hujan. ketika bangun, kasur dan selimut sudah basah. Saya jarang menginap di rumah orang karena hal ini. tapi, karena terpaksa, saya pernah menginap di rumah salah satu keluarga saya dan ngompol. Sekali.
2.
Mencuri. Saya pernah mencuri buku di perpustakaan sekolah. saya sering mencuri uang tabungan saya sendiri dan mencongkelnya diam-diam. Saya pernah beberapa kali mencuri buah kelapa milik orang yang gak pernah diurus. Saya pernah mencuri jambu tetangga saya. Saya pernah mencuri permen teman sebangku saya.
3.
Kecepirit. Tidak lengkap hidup seseorang sebelum merasakan hal memalukan satu ini. kelas 3 sekolah dasar, saat ulangan matematika, saya mengalaminya. Tidak ada teman saya yang tahu seandainya saya tak memberi tahu teman sebangku saya. Fatalnya dia mengumumkannya sesaat setelah saya mengatakannya. Ini lebih memalukan daripada kentut-tak-disangka-bersuara-nyaring di depan orang banyak.
4.
Surat cinta. saya mengirim surat cinta pertama kali ketika masih kelas tiga SD. Saya kirim ke teman sekelas saya, yang bernama Rindu. Dia menangis entah kenapa dan saya dihukum berdiri di depan kelas.
5.
(belum siap mengatakannya)

Jumat, 11 Mei 2012

Bunga Hujan

Langit, menangislah yang deras.
Lagian aku tak mau mengusap air matamu.

Dan, hujan, bisakah kita bertukar peran?
Aku ingin menjadi kamu.

Aku tahu, bahkan tetesan hujan
dari langit yang tertinggi pun
akhirnya jatuh ke aspal juga.

Aku ingin tahu,
dari mana asal hujan?
Apakah hujan punya keluarga?

Satu tetes hujan jatuh di bahuku,
aku memikirkannya.

Berapa jarak yang telah ditempuhnya
dari awan sampai bahuku?
Secepat apa jantungnya terpompa?

Kalau hujan ingin jatuh di bahuku, atau di atas rambutku,
apakah ia akan merasa sedih jika aku memakai payung?

Apa yang dikatakan hujan sewaktu akhirnya
sang awan melepaskannya dari ketinggian?

Kalau hujan merasa sepi, lalu menangis,
apakah ia sedang melahirkan anak hujan?

Saya tak suka hujan, hanya jika aku memakai make up.
Tapi saya tak suka make up, jadi saya lebih menyukai hujan.

Oh, bunga-bunga!
Ayo, berganti bajulah.
Aku mau sebentar saja memakai baju warna ungumu.

Aku mau tahu,
apa yang dirasakan bunga
ketika ia pertama kali mekar?
Apa yang dikatakannya
ketika ia menjadi layu?

Pertama mekar ia dipuji,
waktu layu ia dibuang.

Padahal hidup bunga begitu singkat.
Sebentar saja ia tersenyum, lalu layu.
Kasihan. Padahal, baju-bajunya begitu cantik.

Rabu, 09 Mei 2012

Manusia Berisik

Manusia pada berisik.
Kerjaannya cuma ngritik.
Dari luar keliatan cantik.
Dalamnya hati fasik.

Mending ga usah buka suara.
Yang paling byk duitnya yg juara.
Gak usah maki-maki.
Yang denger udah aki-aki.
Kuping nempel tapi budeg.
Otak pinter tapi ndableg.

Ga pduli rakyat cemas.
Cuma pduli ngantongin emas.
Uang jd alasan utama.
Buka suara jg percuma.

Manusia emang brisik.
Cuma bs ngritik.
Dunia uda kebalik.
Gak jelas mana yang baik.

Harusnya cari solusi.
Bukan cuma berbasa-basi.